저자: 미상 · 외국인
요약 보기
이 영상은 찰리 멍거가 투자자 리루(Li Lu)를 소개하는 내용의 1부로, 리루의 생애와 투자 철학을 다룬다. 리루는 중국 천안문 시위 참여 후 미국으로 망명했고, 콜롬비아 대학에서 워런 버핏의 강연을 듣고 가치투자 원칙을 받아들였다고 설명한다. 학생 시절 장학금을 주식 투자에 활용해 대학 졸업 무렵 약 100만 달러를 모았다고 언급된다. 러시아 민영화 시기 석유 회사 지분을 주당 약 0.5달러 수준에 매입해 큰 수익을 냈고, 루블화 90% 평가절하를 감안해도 10배 이상 수익이 났다고 한다. 팀버랜드(Timberland) 투자 사례에서는 약 5배 PE, 낮은 평가로 매수해 2년 만에 8배 수익을 냈다고 설명한다. 영상은 리루의 10배, 50배 수익 사례를 다음 편에서 다룬다고 예고한다. 이 영상에는 특정 종목의 앞으로 1~3개월 가격 방향에 대한 예측 발언이 없다.
다듬은 글
Judul: Charlie Munger hanya berinvestasi pada orang ini - Kisah Li Lu Part 1 Channel: midascuan
Di video sebelumnya kita sudah menyinggung soal investor bernama Lilu dan Jodie c634 meminta kami membahas kisah perjalanan Lilu. Oke, kita mulai. Saya tahu nama Lilu dari video-videonya. Money sendiri adalah investor hebat dan cukup aktif di YouTube. Pabrik mengunggah banyak video webinarnya di YouTube miliknya sendiri. Di salah satu videonya, saya lupa yang mana karena sudah cukup lama, Bray bercerita tentang seorang investor bernama Lilo, karena Lilu adalah satu-satunya investor yang dipercaya Charlie Munger untuk mengelola uangnya melalui Himalaya Capital. Imbal hasil investasi Lilu sekitar 30% CAGR dari tahun 1998 sampai sekarang, jadi Lilu mengalahkan pasar selama puluhan tahun dan dipercaya oleh investor-investor besar. Mengapa Charlie Munger bersedia mempercayakan uangnya kepada Lilu, dan bagaimana kisah Lilu sehingga bisa terus-menerus menghasilkan keuntungan besar dalam jangka panjang?
Sejak muda, Lilu dibesarkan dalam keluarga yang sarat gerakan politik. Ayah dan ibunya adalah aktivis yang terlibat dalam Revolusi Kebudayaan Tiongkok, dan kehidupan orang tuanya tampaknya juga memengaruhi dirinya. Ketika Lilu remaja dan belajar di Universitas Peking, ia terlibat sebagai pemimpin mahasiswa. Bagi yang belum tahu tentang tragedi Lapangan Tiananmen, ini adalah bentuk protes yang dipimpin mahasiswa Tiongkok terhadap kondisi ekonomi dan korupsi yang merajalela di Tiongkok, serta tuntutan agar negara menjadi lebih demokratis. Demonstrasi dan protes ini terjadi pada tahun 1989, dan sekitar 50 ribu mahasiswa turun ke jalan di Beijing. Salah satu pemimpin mahasiswanya adalah Lilu. Aksi ini menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk turun ke jalan, dan pada 4 Mei 1989 sekitar 100 ribu mahasiswa berbaris di Beijing. Lalu pada 13 Mei 1989, para mahasiswa menduduki Lapangan Tiananmen. Pemerintah Tiongkok memilih menyelesaikan konflik ini dengan tindakan militer, dan tank-tank dikirim ke Lapangan Tiananmen. Konflik ini menewaskan banyak orang. Peristiwa ini dikenal sebagai tragedi Tiananmen.
Setelah tragedi Tiananmen, pemerintah Tiongkok masih memburu para pemimpin mahasiswa yang terlibat. Hal ini memaksa Lilu melarikan diri dari negaranya dengan bantuan keluarganya ke Amerika Serikat. Setibanya di Amerika, Lilu sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Namun berkat keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa, ia diterima di Universitas Columbia, yang merupakan almamater Warren Buffett. Meski tidak bisa berbahasa Inggris, Lilu belajar sambil berjalan dan lulus dengan tiga gelar sekaligus, yaitu ekonomi, hukum, dan bisnis. Ini luar biasa bagi seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris, dan meraih tiga gelar sekaligus menjadi salah satu bukti kejeniusan Lilu.
Selama kuliah di Columbia, Lilu juga bertemu Warren Buffett. Ketika Buffett menjadi dosen tamu pada 1993, awalnya Lilu tidak tertarik menghadiri seminar Buffett. Namun ia akhirnya memutuskan ikut setelah dibujuk temannya. Buffett pernah berkata kurang lebih seperti ini tentang investasi: kamu bisa menjelaskan perasaan tentang sesuatu kepada seseorang, dan dia akan langsung memahaminya atau tidak akan pernah bisa memahaminya. Ada orang yang ketika kita menjelaskan harga dan nilai, langsung paham, ada pula yang tidak. Bisa jadi karena keyakinan atau pola pikir yang sangat berbeda. Lilu tampaknya termasuk orang yang langsung paham dan cocok dengan prinsip value investing, yaitu membeli sesuatu di bawah nilainya, setelah mengikuti seminar Buffett tersebut.
Lilu mempraktikkan apa yang ia pelajari dari Buffett. Hasil investasinya luar biasa, dan ketika lulus kuliah, Lilu sudah memiliki 1 juta dolar dari hasil mengembangkan uangnya di pasar saham. Bagaimana caranya? Lilu mendapat beasiswa setiap beberapa bulan, dan uang beasiswa itu seharusnya digunakan untuk membayar uang kuliahnya. Namun ketika menerima uang tersebut, ia tidak harus langsung membayarnya, bisa beberapa bulan kemudian atau di akhir semester. Uang inilah yang Lilu gunakan untuk membeli saham. Strategi yang dipakai adalah meniru metode Buffett. Di awal, Lilu membeli perusahaan-perusahaan murah dan memiliki aksi korporasi yang baik, sesuai filosofi investasi Buffett yang menular kepadanya. Mengapa Lilu berani mengambil risiko ini? Pertama, harganya sangat murah. Kedua, jika rugi kecil, tetapi jika untung besar, risiko dan imbalannya sangat menarik sejak awal.
Prinsip investasi Lilu tetap sama dari awal, yaitu membeli saham murah. Pasar yang paling volatil bisa sangat tidak rasional, dan ketika perusahaan yang bagus bisa dijual dengan harga sangat murah, ini memberikan peluang bagi investor deep value seperti Lilu. Tentu saja ia tetap melakukan riset, dan tidak hanya membeli karena harganya murah di tengah krisis. Biasanya ada banyak peluang investasi bagi investor yang berani membeli. Salah satunya di Rusia pada 1990-an. Uni Soviet baru runtuh dan Rusia baru lahir. Pemerintah Rusia saat itu baru memprivatisasi perusahaan-perusahaan besar yang sebelumnya dimiliki negara dan melepasnya ke sektor swasta. Bayangkan seperti perusahaan minyak yang awalnya dimiliki negara, misalnya Pertamina, lalu dilepas ke swasta. Hasilnya, perusahaan minyak Rusia itu dibagikan kepada pekerja dan warga biasa. Rusia saat itu belum memiliki bursa saham, sehingga para warga dan pekerja mendapat lembar saham yang mereka sendiri tidak tahu nilainya, lalu memperdagangkannya tanpa perlu mengetahui isi dan harganya. Harga saham itu turun di pasar over the counter atau pasar sekunder. Lilu entah bagaimana menemukan saham ini. Ia mengatakan bahwa harga minyak rata-rata saat itu 20 dolar per barel, dan jika dihitung dari seluruh minyak yang dimiliki perusahaan minyak tersebut, harga pasarnya hanya setengah sen atau 0,5 dolar menurut Lilu. Ini jelas murah. Perhitungan ini belum termasuk nilai perusahaan yang memegang monopoli minyak dan gas di Rusia. Investasi Lilu menghasilkan keuntungan 10 kali lipat, dan itu sudah bersih setelah memperhitungkan devaluasi rubel Rusia yang jatuh 90%. Jadi sebenarnya keuntungan kotornya sudah lebih dari 10 kali.
Salah satu investasi sukses Lilu adalah saham Timberland. Timberland adalah perusahaan sepatu dan pakaian yang pasti pernah kamu lihat di mal. Lilu berinvestasi di Timberland dengan valuasi di atas nilai buku, jadi ini bukan investasi klasik. Lilu masuk ke Timberland pada 1998 dengan harga 28 dolar per saham. Valuasinya saat itu menunjukkan PE 5 kali, dan meski di atas nilai buku, valuasinya masih sangat murah karena aset lancarnya saja mencapai 387 juta dolar dengan total liabilitas 203 juta dolar. Jadi neraca perusahaan ini sangat solid. Return on invested capital Timberland juga sangat baik, di atas 15%. Namun mengapa perusahaan bagus ini dijual dengan valuasi murah? Ternyata Timberland pernah mengalami banyak gugatan hukum. Lilu membaca satu per satu gugatan terhadap Timberland dan menemukan bahwa gugatan-gugatan itu diajukan karena manajemen tidak lagi menerima arahan dalam administrasi. Selain itu Lilu mencari tahu siapa yang menjadi sumber riset, mengunjungi mereka, dan menyimpulkan bahwa Timberland dikelola oleh pemilik yang kompeten dan sangat menghormati para pemegang saham. Pemilik yang sama juga menghasilkan keuntungan 8 kali lipat dalam 2 tahun.
Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Kita masih punya lanjutan kisah Lilu dengan investasinya yang sukses hingga 10 kali lipat, dan satu lagi hingga 50 kali lipat. Namun itu akan kita bahas di video berikutnya. Saya penasaran, tunggu video selanjutnya. Sampai jumpa.


Comments 0