people장 홈📈 Stock Masters주식 유튜브를 Articles로 읽고 Author의 예측을 실제 가격으로 확인합니다 people장 Board 홈요청하기

한국어 · English

빌애크먼

Accuracy score+1.8
순 place53
Scored calls146 calls
Hit rate / Market-adjusted / Return-weighted61.9% / 60.5% / 61.8%
1-month return / Market / beta excess return / Peer excess+1.9% / +1.4% / +0.2
Bullish / Bearish / Neutral42.5% / 21.4% / 36.1%
Best horizon6m
Performance badgeMomentum badge
Main channelCNBC Television
국적외
Note
Updated2026-10-28 07:00:00

Main stocks: #미국채금리 (110)#미국기술주 (86)#S&P500 (65)#나스닥 (14)#미국금융주 (13)

How scores are calculated

Bill Ackman Bongkar Rahasia Investasi di Tengah Gila-Gilaan AI

ZAMANTARA · 2026-09-14 · 유튜브 시청 445 · Board Views 8 · International

International

유튜브 썸네일

← 목록

저자: BillAckman · 외국인

요약 보기

Ackman은 시장 전반이 비싸 보여도 개별 우량 대형주엔 기회가 있다고 주장. AI 열풍 속 투기적 과열을 경계하며, 지속 가능한 사업 모델(예: Uber)을 선호. 자율주행이 Uber에 위협이 아니라 이용 증가·비용 하락 요인이 될 수 있다고 봄. OpenAI는 과도한 자금소요 리스크를 지적.

다듬은 글

※ AI가 다듬은 글(오탈자·군말 정리)

01. Bill Ackman pernah kehilangan uang miliaran dolar. Anehnya, dari kerugian besar itu ia belajar sesuatu yang mengubah cara pandangnya terhadap pasar. Sekarang ia tidak hanya dikenal sebagai investor besar, tetapi juga berani bicara soal Trump, politik Amerika, dan arah dunia investasi yang terus berubah.

02. Dalam wawancara dengan Fortune Magazine, Ackman mengungkapkan apa yang ia lihat dari kondisi pasar saat ini, bagaimana ia bangkit dari kerugian besar, dan mengapa pandangannya agak berbeda. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat seorang investor bisa kehilangan miliaran dolar lalu kembali berdiri? Untuk itu, mari simak sampai akhir.

03. Bayangkan harga saham terus naik, dan banyak orang mulai merasa pasar sudah terlalu mahal, apalagi ketika perhatian tertuju pada perusahaan-perusahaan yang ramai dibicarakan. Namun Bill Ackman melihatnya sedikit berbeda.

04. Menurut saya, bagian ini menarik, karena Ackman tidak mengatakan bahwa semua saham itu mahal. Ia justru melihat masih ada perusahaan besar yang harganya menurutnya wajar. Mengapa begitu? Dalam wawancaranya dengan Fortune Magazine, Ackman menjelaskan bahwa kita tidak bisa melihat kondisi pasar hanya dari satu angka.

05. Kita juga harus melihat isi perusahaannya. Misalnya, banyak orang membandingkan harga saham hari ini dengan kondisi pasar 10 atau 20 tahun lalu. Sekilas terlihat mahal, tetapi masalahnya, perusahaan-perusahaan besar hari ini juga sudah berubah. Perusahaan terbesar sekarang mampu menghasilkan uang dan tumbuh jauh lebih besar dibanding banyak perusahaan terbesar di masa lalu.

06. Jadi, jika kita hanya melihat harga tanpa melihat perkembangan bisnisnya, kita bisa menarik kesimpulan yang keliru. Tetapi di sinilah Ackman mulai membunyikan alarm. Menurutnya, ada bagian pasar yang sudah dipenuhi spekulasi. Orang membeli bukan karena benar-benar memahami nilainya, melainkan karena melihat harga terus naik.

07. Jika situasinya seperti ini, kita harus mulai berhati-hati. Sebab ketika semua orang berlomba mencari untung, pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan ini bagus atau tidak, melainkan berapa banyak orang yang membeli hanya karena berharap harga berikutnya akan lebih tinggi.

08. Ini pembedaan yang sangat penting. Ackman melihat situasi ini dari berbagai sisi. Ada orang yang berani mengambil taruhan besar dalam waktu sangat singkat. Ada juga yang mengejar perusahaan yang sedang populer karena dianggap masa depan. Namun Ackman sendiri memilih jalan yang berbeda.

09. Ia tidak terlalu tertarik mengejar sesuatu hanya karena sedang menjadi pusat perhatian. Ia lebih suka mencari perusahaan yang menurutnya bisa ia pahami. Bisnisnya jelas. Masih punya ruang untuk tumbuh. Dan yang paling penting, ia ingin punya alasan kuat untuk yakin bahwa perusahaan itu masih ada dan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

10. Di sinilah kita bisa melihat cara berpikir Ackman. Ia tidak hanya bertanya, apakah perusahaan ini populer? Ia lebih tertarik bertanya, jika saya memegang perusahaan ini dalam jangka panjang, apa yang membuat saya yakin bisnisnya akan semakin kuat? Contohnya Uber. Banyak orang mungkin melihat perkembangan kendaraan tanpa pengemudi sebagai ancaman bagi Uber.

11. Ackman justru melihatnya dari sudut yang berbeda. Menurutnya, yang terpenting bukanlah siapa yang membuat kendaraan itu bisa berjalan sendiri. Yang terpenting adalah siapa yang akhirnya dicari orang ketika mereka ingin bepergian. Bayangkan saat kita ingin pergi ke suatu tempat. Tentu kita ingin mendapatkan kendaraan dengan cepat, harganya wajar, dan kita percaya pada layanannya.

12. Jika semua itu masih bisa dilakukan lewat Uber, maka perkembangan kendaraan tanpa pengemudi tidak harus menjadi musuh, bahkan bisa menjadi keuntungan karena biaya perjalanan menjadi lebih murah. Dan ketika harga turun, jumlah orang yang ingin menggunakan layanan itu bisa meningkat. Jadi, dalam cara berpikir Ackman, perusahaan yang tampak biasa saja bisa memiliki masa depan yang jauh lebih menarik dibanding perusahaan yang paling banyak dibicarakan.

13. Dan dari sini kita sampai pada satu poin penting: pasar yang mahal tidak berarti semua perusahaan di dalamnya mahal. Kadang, justru ketika perhatian semua orang tertuju ke satu arah, ada peluang yang luput dari pandangan. Pertanyaannya sekarang, apakah perusahaan yang paling ramai dibicarakan hari ini benar-benar akan menjadi pemenang? Atau mungkin ada perusahaan lain yang diam-diam menunggu untuk dilihat.

14. Jika sebelumnya kita melihat bagaimana Ackman membaca kondisi pasar, sekarang kita masuk ke bagian yang jauh lebih menarik, karena ada satu hal yang menurut saya sulit diabaikan. Kecerdasan buatan sedang mengubah banyak hal. Namun menurut Bill Ackman, justru di sinilah investor perlu lebih berhati-hati.

15. Mengapa? Karena ketika sesuatu dianggap sebagai masa depan, orang biasanya ingin ikut masuk secepat mungkin. Semua orang ingin ikut serta, semua orang ingin kebagian.

16. Tetapi pertanyaannya, apakah semua perusahaan yang terkait kecerdasan buatan benar-benar akan menjadi pemenang? Menurut Ackman, belum tentu. Ia sendiri mengakui bahwa kecerdasan buatan adalah salah satu perubahan terbesar yang sedang terjadi. Dampaknya bisa dirasakan di perusahaan, pekerjaan, dan ekonomi secara luas. Namun Ackman tidak memilih sebuah perusahaan hanya karena berada di pusat perkembangan itu.

17. Sebaliknya, ia lebih suka mencari perusahaan yang masih bisa ia bayangkan bentuknya beberapa tahun ke depan. Sederhananya, jika kita membeli sebuah bisnis hari ini, kita sebaiknya memiliki gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana bisnis itu akan menghasilkan uang di masa depan. Nah, masalahnya menjadi lebih sulit ketika perubahan terjadi sangat cepat.

18. Hari ini sebuah perusahaan terlihat hebat, besok muncul sesuatu yang lebih baik, lalu orang beralih. Jika tidak hati-hati, kita bisa membeli perusahaan yang sedang populer, tetapi tidak tahu apakah keunggulannya akan bertahan. Itulah sebabnya Ackman lebih menyukai perusahaan yang menurutnya memiliki posisi kuat, perusahaan yang sulit digantikan dengan mudah.

19. Ia menyebut inilah alasan dirinya tertarik pada beberapa perusahaan besar seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Uber. Bukan karena perusahaan-perusahaan ini paling banyak dibicarakan, tetapi karena bisnisnya sudah memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita lihat Uber. Ackman melihat kendaraan tanpa pengemudi bukan hanya sebagai ancaman.

20. Ia justru melihat kemungkinan bahwa perkembangan ini bisa membuat biaya perjalanan lebih murah. Jika perjalanan menjadi lebih murah, orang akan lebih sering bepergian, dan jika penggunaannya meningkat, Uber bisa mendapatkan keuntungan. Jadi cara berpikirnya cukup sederhana. Jangan hanya melihat teknologinya, tetapi juga lihat siapa yang akan diuntungkan ketika teknologi itu benar-benar dipakai banyak orang.

21. Setelah itu, perhatian Ackman bergeser ke perusahaan kecerdasan buatan yang nilainya sudah sangat besar. Di sini pandangannya mulai menjadi lebih berhati-hati. Ia melihat Anthropic sebagai perusahaan yang tumbuh sangat cepat. Menurut Ackman, pertumbuhan seperti itu sangat menarik, terutama jika perusahaan mampu menghasilkan laba sambil terus berkembang.

22. Namun ketika membicarakan Open AI, persoalannya berbeda. Ackman mengatakan ia tidak memiliki informasi khusus dari dalam perusahaan. Ia hanya melihat informasi yang tersedia secara terbuka. Dan dari informasi itu muncul pertanyaan besar: sampai kapan orang akan terus memberikan uang kepada perusahaan yang masih membutuhkan biaya luar biasa besar untuk berkembang?

23. Bukan berarti Ackman mengatakan kecerdasan buatan tidak akan berhasil. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah biaya. Bayangkan sebuah perusahaan harus terus-menerus mengeluarkan dana yang sangat besar. Setiap tahun masih membutuhkan tambahan uang. Sampai kapan orang akan terus membiayainya? Di sinilah Ackman melihat salah satu risiko terbesar.

24. Menurutnya, tidak masalah jika sebuah perusahaan mengeluarkan banyak uang di awal, asalkan ada jalur yang jelas menuju kondisi ketika perusahaan mulai menghasilkan lebih banyak uang daripada yang dikeluarkan. Uber pernah melewati masa seperti itu. Perusahaan ini dulu banyak mengeluarkan biaya, tetapi kemudian bisnisnya berubah dan mulai menghasilkan banyak uang.

25. Jadi bagi Ackman, kerugian di awal bukan otomatis tanda bahwa sebuah bisnis buruk. Yang penting adalah ke mana bisnis itu menuju. Apakah suatu hari nanti ia akan mampu berdiri sendiri, atau justru terus membutuhkan uang baru? Menurut saya, pertanyaan inilah kunci untuk memahami bagaimana Ackman memandang dunia kecerdasan buatan.

26. Ia tidak sedang mencoba menebak perusahaan mana yang akan menjadi paling terkenal. Ia ingin tahu siapa yang bisa bertahan ketika situasinya tidak seramai sekarang. Karena ketika semua orang bersemangat, hampir semua perusahaan terlihat menjanjikan. Tetapi ketika uang mulai sulit didapat, barulah terlihat mana yang benar-benar kuat.

27. Dan jika itu benar, ada satu pertanyaan yang menjadi semakin menarik: bagaimana dengan perusahaan kecerdasan buatan yang nilainya sudah mencapai angka fantastis sebelum benar-benar menghasilkan laba yang besar?

28. Setelah melihat bagaimana Bill Ackman membaca pasar dan perkembangan kecerdasan buatan, ada satu hal lagi yang membuat sosok ini menarik. Ia bukan tipe orang yang hanya bicara ketika semua orang setuju. Justru ketika sebuah isu mulai diperdebatkan dengan panas, Ackman sering memilih untuk ikut terjun.

29. Padahal ia tahu pasti akan ada orang yang marah, ada yang tidak setuju, bahkan ada yang menyerangnya secara langsung. Namun menurut Ackman, itu bukan alasan untuk diam. Ia memiliki jutaan pengikut yang menyimak pandangannya. Tetapi ia mengatakan bahwa ia tidak sengaja mencari perhatian. Kadang ia melihat sebuah masalah, lalu merasa ada sesuatu yang tidak masuk akal.

30. Lalu muncul pertanyaan sederhana: jika ada yang salah, mengapa tidak ada yang membicarakannya? Nah, di situlah ia biasanya mulai bersuara. Menurut saya, bagian ini menarik, karena keberanian seperti ini bukan hanya soal berani bicara, tetapi juga berani menerima konsekuensi dari apa yang kita katakan. Ackman mengakui bahwa pandangannya sering membuat orang tidak senang.

31. Namun ia merasa memiliki posisi yang cukup bebas. Ia tidak takut kehilangan pekerjaan karena menyampaikan pendapat. Ia tidak perlu mengikuti kemauan atasannya. Karena itu, ia merasa bisa mengatakan apa yang benar-benar ia pikirkan. Tetapi ada satu hal yang menarik. Ackman juga mengatakan bahwa ia tidak ingin dikelilingi orang-orang yang selalu bilang dirinya benar.

32. Sebaliknya, ia ingin ada orang yang berani berkata, "Bill, kamu salah." Hal ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan pribadinya. Ia juga membawa cara berpikir itu ke dalam perusahaannya. Ia ingin orang-orang di sekitarnya berani berdebat, berani mempertanyakan keputusan, berani mengatakan jika ada sesuatu yang tidak masuk akal.

33. Karena menurutnya, masalah terbesar muncul ketika semua orang hanya mengangguk. Bayangkan sebuah ruangan. Ada satu orang yang memiliki kekuasaan besar, lalu semua orang di sekitarnya hanya berkata, "Iya, betul." Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang membantah, tidak ada yang berani mengatakan bahwa keputusan itu mungkin keliru. Menurut Ackman, situasi seperti itu sangat berbahaya.

34. Sebab seseorang bisa merasa selalu benar hanya karena ia tidak pernah mendengar pendapat yang berbeda. Itulah sebabnya ia bahkan membaca komentar-komentar dari orang yang mengkritiknya. Bukan berarti ia menganggap semua komentar itu benar. Ada juga komentar yang menurutnya tidak layak diperhatikan.

35. Namun, jika seseorang memberikan alasan yang masuk akal dan mengatakan bahwa ia salah, Ackman ingin mendengarnya. Karena dari situlah ia bisa belajar. Prinsip ini juga terlihat ketika Ackman berbicara tentang politik Amerika. Salah satu keputusan yang paling banyak mendapat perhatian adalah ketika ia menyatakan dukungannya kepada Donald Trump.

36. Ackman mengatakan keputusannya itu tidak berarti ia setuju dengan semua tindakan Trump. Ia melihatnya dari sudut pandang apa yang menurutnya bisa dilakukan untuk dunia bisnis dan ekonomi. Ia mengatakan telah melihat data dan mempertimbangkan apa yang menurutnya baik bagi Amerika. Setelah itu, ia mengambil keputusan. Yang menarik, setelah itu hubungannya dengan Trump tetap berjalan baik.

37. Ackman mengatakan salah satu alasannya adalah karena ia selalu berusaha menyampaikan apa yang menurutnya benar, bukan sekadar mengatakan apa yang ingin didengar seorang presiden. Dan menurutnya, orang-orang di posisi tinggi justru membutuhkan orang seperti itu, yaitu orang yang bersedia mengatakan kebenaran, bukan orang yang hanya bermain aman.

38. Tentu saja kita tidak harus setuju dengan semua pandangan Ackman. Di sinilah ia menjadi menarik. Kita bisa setuju dengan satu pendapat, lalu tidak setuju dengan pendapat lain, dan itu wajar. Karena inti cara berpikir Ackman sebenarnya sederhana. Jangan takut berbeda hanya karena mayoritas memilih arah lain. Tetapi di sisi lain, jangan merasa selalu benar.

39. Jika ada orang yang bisa menunjukkan bahwa kita salah, kita harus bersedia mengubah pandangan. Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa Ackman tetap berani menyampaikan pendapatnya di depan jutaan orang. Ia tidak mengatakan dirinya selalu benar. Ia hanya meyakini bahwa pendapat harus bisa diuji. Dan jika ternyata keliru, kita harus berani mengakuinya.

40. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita setuju atau tidak setuju dengan Bill Ackman. Pertanyaan yang lebih menarik adalah mengapa seorang investor bisa begitu yakin bahwa keterbukaan terhadap kritik adalah salah satu senjata terbesarnya dalam mengambil keputusan. Dan ketika kita melihat bagaimana ia memandang Amerika, kekayaan, pajak, dan masa depan orang biasa, jawabannya mulai terlihat.

41. Jika kita memperhatikan bagaimana Bill Ackman memilih perusahaan, ada satu hal yang cukup menarik. Ia tidak selalu mengejar perusahaan yang paling ramai. Sebaliknya, ia mencari bisnis yang menurutnya akan tetap dibutuhkan meskipun dunia berubah. Dan salah satu contoh yang paling jelas adalah Uber.

42. Sekilas keputusan ini mungkin terasa aneh. Ketika orang membicarakan masa depan kendaraan tanpa pengemudi, perhatian biasanya langsung tertuju pada produsen mobil atau teknologi di balik kendaraan itu. Namun Ackman melihatnya dari sisi yang berbeda. Menurutnya, yang paling penting bukanlah siapa yang membuat mobil bisa menyetir sendiri.

43. Yang lebih penting adalah siapa yang akan dipakai orang ketika mereka ingin berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Suatu hari nanti kita tidak perlu menyetir sendiri lagi. Kita tinggal membuka aplikasi, memasukkan tujuan, lalu kendaraan datang menjemput. Pertanyaannya, apakah kita akan peduli siapa yang membuat mobilnya? Belum tentu. Kita mungkin hanya ingin kendaraan itu datang dengan cepat, harganya wajar, dan kita yakin layanannya terpercaya.

44. Nah, di sinilah Ackman melihat kekuatan Uber. Menurutnya, Uber sudah memiliki tempat yang kuat di benak orang. Bahkan nama Uber sering dipakai sebagai kata kerja. Jika nama sebuah perusahaan sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, itu menunjukkan bahwa orang sangat terbiasa menggunakannya. Dan menurut Ackman, posisi seperti ini tidak mudah berpindah begitu saja.

45. Ada satu hal yang, menurutnya, membuat saham Uber terlihat murah. Banyak orang khawatir kendaraan tanpa pengemudi akan menghancurkan bisnis Uber. Mereka membayangkan suatu hari orang akan langsung memakai layanan dari perusahaan pembuat kendaraan. Jika itu terjadi, Uber bisa kehilangan tempatnya. Tetapi Ackman tidak melihatnya seperti itu.

46. Ia justru melihat kendaraan tanpa pengemudi sebagai sesuatu yang bisa membantu Uber. Mengapa? Karena jika kendaraan tidak membutuhkan pengemudi, biaya perjalanan bisa turun. Biaya asuransi juga bisa dikurangi. Dan jika harga perjalanan menjadi lebih murah, orang mungkin akan lebih sering memakai layanan itu. Sederhana, bukan? Harga turun, pemakaian naik, dan perusahaan yang sudah punya banyak pengguna bisa mendapat keuntungan dari perubahan tersebut.

47. Itulah sebabnya Ackman melihat masa depan Uber bukan sebagai korban perubahan, melainkan sebagai salah satu pihak yang bisa diuntungkan. Cara berpikir ini menurut saya cukup menarik. Sebab kita sering melihat perubahan teknologi sebagai sesuatu yang pasti akan menggantikan perusahaan lama. Padahal itu tidak selalu benar.

48. Terkadang teknologi baru justru membuat perusahaan yang sudah memiliki jaringan kuat menjadi semakin besar. Coba kita pikirkan kehidupan sehari-hari. Jika kita ingin pergi ke suatu tempat, apakah kita mau membuka lima aplikasi berbeda hanya untuk mencari tumpangan? Tentu tidak. Kita ingin membuka satu tempat, memilih tujuan, lalu selesai.

49. Kita juga ingin tahu berapa lama kendaraan akan datang, berapa biayanya, dan apakah layanannya bisa dipercaya. Di situlah nilai yang Ackman lihat pada Uber. Bukan hanya mobilnya, bukan hanya kendaraan tanpa pengemudi, tetapi sebuah layanan utuh yang menghubungkan orang dengan perjalanan yang mereka butuhkan. Dan Uber juga tidak hanya berada di sektor perjalanan.

50. Ada layanan pemesanan makanan. Artinya, bisnisnya tidak bergantung pada satu kebutuhan saja. Menurut Ackman, posisi ini memberi Uber kekuatan yang sulit digantikan dalam waktu singkat.

51. Dari sini kita bisa melihat kembali prinsip Ackman. Ia tidak mencoba menebak teknologi mana yang akan menjadi pemenang. Ia mencari perusahaan yang tetap bisa menghasilkan keuntungan ketika perubahan terjadi. Dan menurutnya, Uber adalah salah satunya.

52. Bahkan ketika banyak perhatian tertuju pada pembuat chip dan sektor-sektor panas lainnya, Ackman melihat perusahaan seperti Uber, Microsoft, Amazon, dan Meta sebagai bisnis yang masih memiliki nilai menarik.

53. Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah kendaraan tanpa pengemudi akan mengalahkan Uber, melainkan siapa yang paling diuntungkan ketika kendaraan tanpa pengemudi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan jika jawaban Ackman benar, perusahaan yang hari ini terlihat biasa saja bisa jadi justru termasuk pemenang terbesar dari perubahan ini.

54. Pada akhirnya, teknologi mungkin berubah, cara kita bepergian mungkin berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain akan tetap ada. Mungkin itulah sebabnya Ackman memilih melihat Uber bukan dari apa perusahaan ini hari ini, melainkan dari kemungkinan posisinya ketika dunia benar-benar berubah.

55. Dari sudut pandang Bill Ackman, kunci dalam berinvestasi bukanlah sekadar mengikuti apa yang sedang populer. Yang lebih penting adalah memahami bisnisnya dan melihat apakah bisnis itu mampu bertahan ketika dunia berubah. Uber menjadi contoh bagaimana perubahan justru bisa membuka peluang baru. Pada akhirnya, yang menang bukanlah yang paling banyak orangnya, melainkan yang mampu bertahan.

56. Semoga bermanfaat, sampai jumpa.

원문 보기 · 글 내려 주세요 신청

← List으로
공유페이스북밴드

이 Articles에 대해 요청(숨김) 수정 요청

Comments 0