저자: Imron · 외국인
요약 보기
결론: 주식 투자 성공의 핵심은 인내심·독립적 분석·고통 감내력이며, 이 세 가지가 부족하면 투자자가 되기보다 다시 생각해야 한다는 교육 영상. 미국 투자자 Peter Lynch의 투자 원칙을 소개하며 워런 버핏과 비교한다. 성공 투자자의 특성으로 인내심, 독립성, 고통 감내력을 제시한다. 인내심: 주식 투자는 기업이 성장할 시간이 필요하다. Lynch는 2년 이상 보유한 종목에서 큰 수익이 났다고 설명하며, 단기 유행이나 인플루언서를 따라 빠르게 사고파는 행동을 경계한다. 독립성: 투자자는 재무제표, 뉴스, 기업 활동을 직접 분석해야 하며 전문가나 인플루언서 의견에 휘둘리면 안 된다. 석탄주 사례에서 증권사·외국계 추천을 무시하고 보유해 큰 수익을 얻었다는 일화를 든다. 고통 감내력: 손실을 견디는 능력은 사람마다 다르다. 5%, 10% 하락 시 어떻게 대응할지 미리 정해야 하며, 큰 손실을 감수하는 것은 위험하다. 일화로 Bumi 주식이 80% 이상 하락했으나 버틴 사례를 든다. 독립적 리서치 부족: 영상은 투자자 대부분(약 5% 미만 추정)만이 재무제표나 사업보고서를 읽는다고 주장하며, 대다수가 유행이나 추천을 따른다고 지적한다. 결론적으로 초보 투자자는 실전 투자 전에 충분히 공부하고, 여유 자금으로 소액부터 시작하며, 질문하고 배우는 자세가 필요하다고 조언한다. 종목 관련 구체적 방향 예측은 없고, 대상 자산에 대한 1~3개월 가격 전망 발언도 없다.
다듬은 글
Peter Lynch adalah salah satu investor saham Amerika yang namanya cukup terkenal di Wall Street. Namanya juga disejajarkan dengan Warren Buffett, bapak investasi di era modern ini. Berikut beberapa rahasia yang wajib diketahui oleh investor pemula. Menurut tautan ini, investor saham yang sukses harus memiliki karakter berikut. Pertama, kesabaran atau sikap sabar. Berinvestasi saham membutuhkan waktu agar perusahaan bisa berkembang, jadi ketika kita terjun ke dunia saham, kesabaran adalah salah satu modal yang cukup penting. Generasi milenial harus benar-benar bersabar, karena kebanyakan dari mereka saat terjun ke dunia saham hanya mengikuti tren atau influencer. Ketika orang ramai membeli saham tertentu, milenial ikut membeli, dan ketika harga turun sedikit saja mereka cepat panik atau FOMO, tidak mau ketinggalan apa yang sedang booming.
Contohnya, investor sukses Lo Kheng Hong juga dikenal karena kesabarannya dalam berinvestasi saham. Beberapa saham yang memberikan return besar adalah saham yang dipegang lebih dari dua tahun. Indonesia juga punya salah satu investor yang cukup dihormati, yaitu Lo Kheng Hong. Jangan bingung, ini memang tidak cocok untuk pemula yang ingin cepat kaya, karena prosesnya memang butuh waktu. Lo Kheng Hong dengan sabar menahan saham lebih dari dua tahun, tidak membeli hari ini untuk untung besok, atau hari ini untung hari ini. Selain sabar dalam menahan saham, ia juga sabar dalam mencari saham yang bagus. Ia sangat teliti menganalisis saham secara detail. Jika sudah menemukan saham perusahaan yang bagus, ia juga sabar menunggu sampai harganya tepat sebelum mulai membeli. Analisis juga sangat penting karena menganalisis adalah salah satu faktor paling krusial untuk tahu saham mana yang bagus dan mana yang tidak. Proses analisis ini tentu juga membutuhkan waktu. Di negara kita, investor harus terus membaca buku, laporan keuangan, laba bersih, dan lainnya.
Kedua, kemandirian atau independensi. Lo Kheng Hong adalah investor yang sangat mandiri. Ia menganalisis saham sendiri dengan membaca laporan keuangan, berita, aksi korporasi, dan sebagainya. Ia tidak mudah terpengaruh pendapat orang lain, seperti analisis dari pakar saham, pakar ekonomi, dan sebagainya. Jadi bagi milenial, ketika ingin membeli saham, harus menganalisisnya sendiri. Kita harus tahu apa itu laporan keuangan dan hal-hal apa saja yang menjadi perhatian perusahaan. Pemahaman yang mandiri tidak mudah terpengaruh oleh berita atau opini yang dibuat para pakar, influencer, atau pemahaman yang sedang viral saat ini.
Suatu kali, ia ingin membeli saham batu bara. Broker-nya, yang lulusan luar negeri, menyarankannya untuk tidak membeli saham batu bara karena prospek masa depannya suram. Lo Kheng Hong tetap teguh membeli saham yang harganya Rp100 per lembar, dan ia mendapatkan 2 ton perusahaan. Lalu harga saham itu melesat sampai 4.400. Inilah yang menunjukkan betapa pentingnya kemandirian dalam menentukan keputusan. Ia yakin dengan keputusannya, apa pun kasus, berita, atau analisis yang ada, dan tidak mudah terpengaruh oleh rekomendasi untuk tidak membeli. Ia tetap teguh pada pendiriannya karena kemampuannya menganalisis saham itulah yang menjadi dasar keputusannya, sehingga tidak mudah goyah oleh opini. Pengalaman ini mirip dengan saat Warren Buffett dan Charlie Munger membeli saham Coca-Cola ketika mayoritas investor dan pelaku pasar sepakat bahwa harga saham Coca-Cola sudah terlalu mahal. Terbukti Buffett benar.
Salah satu penyebab kegagalan investasi adalah tidak menganalisis saham yang dibeli sendiri. Investor yang hanya mengikuti rekomendasi atau tindakan orang lain biasanya mudah goyah ketika harga saham turun. Di lingkaran Lo Kheng Hong, penyebab kegagalan investasi di antaranya adalah banyak orang tidak mau menganalisis sendiri, lalu hanya ikut-ikutan atau mengikuti influencer, atau hanya mengandalkan analisis dan opini berita di media sosial.
Ketiga, toleransi terhadap rasa sakit atau kerugian. Setiap orang punya toleransi sakit yang berbeda. Ada yang tertusuk jarum sudah pingsan, ada yang sangat tahan, tetapi tetap di tengah-tengah. Begitu pula dengan investor saham. Sebagian tidak tahan ketika saham turun 5%. Ketika turun 10% lebih, mereka mulai tidak bisa tidur dan nafsu makannya berkurang. Tetapi ada juga investor yang tetap bisa hidup normal ketika saham mereka sudah turun lebih dari separuh. Jadi kemampuan setiap investor berbeda. Bagi pemula, perlu mengetahui seberapa besar kemampuan mereka dalam menerima kerugian. Jika batas toleransinya lima persen, cut loss-lah. Jika sepuluh persen, ya cut loss saat turun mendekati batas itu. Jangan menunggu sampai puluhan persen, lalu di-cut loss, karena modal sudah habis.
Lo Kheng Hong pernah membeli saham Bumi dan mengalami penurunan harga lebih dari 80%. Itu jumlah yang sangat besar. Ia tidak panik, tetap tenang dan tidak stres, meskipun floating loss-nya lebih dari 100 miliar. Ia punya cukup uang untuk tetap bertahan, jadi ia tidak melakukan cut loss, bahkan malah averaging down, membeli lagi saat harga turun di bawah harga belinya. Akhirnya, setelah hampir 1,5 tahun bersembunyi, saham itu naik lagi, dan Lo Kheng Hong masih bisa mendapatkan keuntungan yang layak.
Keempat, kemauan untuk melakukan riset mandiri. Banyak investor melakukan riset yang mendalam dan mandiri sebelum memutuskan membeli saham. Lo Kheng Hong pernah bercerita kepada saya bahwa kemungkinan besar kurang dari lima persen investor yang membaca laporan keuangan atau laporan tahunan perusahaan sebelum memutuskan membeli saham. Menurut lebih banyak orang, hanya sedikit investor yang mau membaca laporan dan laporan tahunan. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan investor, terutama di kalangan milenial, saat membeli saham hanya mengikuti tren, influencer, atau rekomendasi dari orang-orang yang bukan pakar di bidang investasi. Menurut Lo Kheng Hong, ketika membeli saham Untar pada 1998, ia suka membaca laporan keuangan perusahaan sendiri. Jadi ia tahu bahwa meskipun perusahaan itu mengalami kerugian hingga satu triliun, ternyata laba operasionalnya masih positif satu triliun rupiah. Ia berhasil mendapatkannya dengan harga seperti harga bajaj. Berkat riset mandiri itu, ia bisa menganalisis harga saham, apakah perusahaan ini masih bisa memberikan keuntungan atau keuangannya masih baik. Inilah pentingnya riset mandiri.
Bagi yang belum bisa melakukan hal-hal tersebut, kita langsung tahu bahwa ini perlu dipelajari. Intinya, menurut tautan ini, jika seseorang tidak memiliki keempat karakter tersebut, sebaiknya ia berpikir lagi untuk menjadi investor saham. Belajar itu sangat penting, apa pun itu, dan terutama di saham. Jangan sampai uang yang dipakai untuk berinvestasi adalah uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan lain. Karena itu, investor pemula sebaiknya belajar dulu sebelum terjun ke pasar saham. Jika ingin mencoba, boleh saja, tetapi gunakan uang dingin, jangan terburu-buru, belajarlah dulu, dan jangan ragu untuk bertanya.

댓글 0